Demam. The End?

Posted: Januari 5, 2012 in Uncategorized

Aku naik kereta sampai Surabaya, abis itu dilanjutkan perjalanan dengan pesawat terbang ke Ujung Pandang, hingga akhirnya aku dijemput dan sampailah di unhas. Setelah itu aku demam. The End?

 

Buat apa aku ke maros kalau pada akhirnya aku tidak pergi ke satu leang pun karena aku demam? Untuk apa persiapanku selama ini kalau pada akhirnya aku hanya berbaring di salah satu rumah penduduk? Untuk apa aku menghabiskan uang yang banyak untuk menuju maros jika aku langsung di jemput untuk pulang ke Jakarta?

 

Aku memang bertanya-tanya akan banyak hal sejak aku dijemput dari rumah mama Tenne di desa lopi-lopi, maros. Bahkan sebelum aku dijemputpun aku bertanya-tanya untuk apa aku tetap di maros jika kerjaku hanya tidur-tiduran. Tapi setelah aku telaah lagi, aku ternyata menemui banyak orang dan mengalami peristiwa-peristiwa yang tak akan aku alami jika aku tidak ikut ke maros. Aku mau mulai membuat sebuah list, mengenai hal yang aku alami selama perjalanan kesana sampai perjalananku kembali ke Jakarta. Tapi sepertinya merepotkan. Hehe. Pada akhirnya, ga ada yang aku sesali kok.

 

Aku memang sebentar saja di Makassar. Sudah sebentar disana, sakit pula. Tapi aku sempat bermain-main di desa Lopi-lopi. Aku juga sempat bermain di Unhas, baik di mapalanya maupun di jurusan Geologinya. Bahkan aku sempat mandi di goa di belakang rumah mama Tenne.

 

Mungkin aku memang diberikan sakit supaya aku pulang ke rumahku di Jakarta. Biarpun aku uda pernah pulang, tapi tidak pernah lama. Jadi, ada untungnya juga aku sakit. Hehe, tapi tetap saja aku ga mau sakit lagi. Tipes untuk yang keempat kalinya? No Way!!!

Mengingat hal yang lalu

Posted: Januari 5, 2012 in Uncategorized
Tag:,

Aku baru baca lagi post yang pernah aku buat!!!

Ya ampun, aku kangen banget ternyata bikin post. Lucu pas lihat komentar post yang pernah aku buat. lucu juga sama isi post nya, baik yang privet maupun yang nggak. Semoga gw ga berhenti nulis di blog ini. gw uda nulis sejak tahun 2009. sekarang udah 2012 lho. sebenernya banyak hal yang pengen gw post. cuma gw merasa hal itu terlalu rahasia untuk ditampilkan ke banyak orang. oleh karena itu, aku selalu ragu untuk mempublish sesuatu. Yah, mudah-mudhan aja sekarang aku bisa makin menulis apa yang emang masih layak dibaca umum.

We will be taught to fly

Posted: Maret 17, 2010 in Uncategorized

When we walk to the edge of all the light we have

and take the step into the darkness of the unknown,

we must believe that one of two things will happen.

There will be something solid for us to stand on

or we will be taught to fly.

-Patrick Overton

Foolish

Posted: Januari 18, 2010 in Gefühl
Tag:,

“I love him,” I confirmed factually, trying not to sound too sappy about it but rather speaking of my affection as if commenting on the latest trend in fashion. “Such as it is, I want him, even if it means endangering my position. Am I foolish for wanting to be with him?” I asked, not entirely sure I wanted the answer.

“Yes,” she replied easily, “but love is always foolish. At the best of times it hurts, at the worst of times it’s crippling, yet most of us are masochistic enough to come back for it again and again.

(simply quoting…)

Wasted time

Posted: Januari 14, 2010 in Uncategorized

“It’s about waiting too long to do something – to say something you should have said, but were to afraid to say, and now you can’t go back and change it. You waited too long and it’s too late – you missed your chance, and now everything means nothing, every moment you have to look forward to – it’s all just wasted time now.”

Filosofi Truk Sampah

Posted: Desember 8, 2009 in Schule
Tag:, ,

Biasanya tiap hari senin, anak-anak dibagikan lembaran berupa petuah-petuah dari guru, biasanya cuma hal-hal kecil yang gitu-gitu aja, tapi ada juga yang menarik. contohnya yang satu ini, terlalu sayang untuk terbuang begitu saja di tong sampah walaupun berisi tentang sampah:

Suatu malam saya naik sebuah taksi yang menuju Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil mewah melompat keluar dari tempat parkir tepat didepan kami. Supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam sehingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil mewah tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami. Supir taksi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, “Mengapa Anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil Anda dan dapat saja mengirim kira ke rumah sakit!” Saat itulah saya belajar dari supir taksi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut:

Hukum Truk Sampah

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustasi, kemarahan, dan kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada Anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, doakan mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang Anda temui, di tempat kerja, di sekolah, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun pagi hari dengan penyesalan, maka sayangilah orang yang memperlakukan Anda dengan benar dan berdoalah bagi yang tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yang kamu buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.

Hidup itu bukan mengenai menunggu badai berlalu, tetapi tentang belajar menari dalam hujan. (Abu Fauzan)

Step Right Up

Posted: Desember 4, 2009 in Gefühl
Tag:

Every time I think we are making progress, I am reminded how much further we have to walk.

I should go further. I have to. I have ambitions. I have courage. I have family who support me. I have my friends who loyal to me. We could make to the top together. We just need to step right up every second. But, every time I think we are making progress, I am reminded how much further we have to walk.

It never healed

Posted: November 23, 2009 in Gefühl
Tag:,

Someone had once said that time healed all wounds. Whoever had said that was full of shit. The pain never went away. The emptiness left behind could never be filled. The longing never died out. The deep ache never dulled. You simply got used to it. You simply learned to survive – to keep going. You learned to live with it, but it never went away. It never healed – maybe scabbed over, but never healed.

Jadi males makannya

Posted: Agustus 30, 2009 in Familie
Tag:, , , ,

Fakta   : Gw sangat suka kue putri salju.

Fakta   : Walau saat ini di rumah gw ada 6 toples kue putri salju, gw ga terlalu minat makan.

Gw minta beliin kue putri salju ke Ibu gw, biasanya kue yang gw suka banget tuh Ina Cookies, tapi pusatnya di Bandung, ada sih yang jualan di Jakarta, tapi harganya jadi mahal, padahal pemilik Ina Cookies tuh temennya Ibu gw. Tapi gila aja kan kalo kita ke Bandung cuma gara2 mau beli Ina Cookies, akhirnya kita mencoba buat aja deh. mumpung dulu waktu gw kecil juga sering bantuin Ibu buat kue, yah sekarang mah uda pada ga punya waktu, jadi kebetulan banget mumpung bisa nih.

Kebetulan sekarang hari minggu nih, jadi pas abis subuh, kita langsung cabut ke pasar pondok bambu jalan kaki. haha, cape juga, soalnya ga deket2 banget dari rumah gw. Ini bukan pertama kalinya gw ke pasar tradisional, tapi yah… bisa di itung jari lah berapa kali gw ke pasar tradisional. Di sana gw nanya-nanya, itu apaan?? kalo yang itu?? gimana sih cara milih kolang kaling yang bagus?? cara milih telor gimana?? kacang tuh yang bagus yang gimana?? Hehehe, gw belajar banyak di pasar tradisional.

Tapi kasian ya petani dan pekebun, masa harganya murah2 semua, padahal kan mereka nanemnya susah, ngerawatnya lebih susah lagi, nunggu hasilnya lama, eh, yang di dapet cuma dikit banget. Harga di pasar tradisional aja udah murah, gimana harga pas petani itu ngejualnya, pasti lebih murah lagi karena lewat pendistributor, ckckck, petani dan pekebun di Indonesia amat sangat tidak di hargai nih. Padahal kalo petani di hargai, trus kalo jadi petani dapet untung banyak, pasti banyak yang mau jadi petani, trus mereka pada pindah ke desa, jadinya di kota ga banyak pengangguran deh, untung kan semuanya.

Yah, pokoknya abis balik dari pasar, gw jalan lagi ke rumah, tadinya gw mau naik bajaj, cuma ga ada, padahal kita bawa banyak bahan makanan yang lumayan berat. Setelah nyampe rumah, langsung deh bikin adonannya, soalnya kalo istirahat dulu takutnya uda males duluan ngerjainnya lagi.

Akhirnya gw ngenakarin bahan2nya, trus bikin adonannya, trus harus di cetak2, trus akhirnya di panggang juga, abis di panggang harus di kasih gula2nya, baru deh masukin toples. keliatannya sederhana kan??

Tapi ternyata cape juga jadi pembuat kue, emang sih gw ngaduk adonan pake mixer, cuma tetep aja pegel muter2in mixernya. trus karena pencetak kue nya ilang entah kemana akhirnya kita berkreasi deh, kan ade gw ikutan bantuin bikin, Gadhia bikin bentuknya persegi panjang, gw bikin segitiga, Tiani bikin bulan sabit (cuma bentuknya agak aneh, hehe, maklum lah masih kelas 3 SD), Revin bikin bulet2. Cuma, Revin bikinnya gede2 banget, sesuai postur tubuhnya sih. Akhirnya setelah selesai cetak2in, kita panggang, hehe, maklum lah bukan professional, jadi ada yang sedikit gosong, ada yang gosongnya agak banyak, ada juga sih yang bagus.

Tapi GILAAAAA, kita mulai proyek ini kan setelah subuh, masa baru selesai pas adzan ashar. gileeee, lama banget. Pas awal-awal bikin gw masi ngiler liatnya, tapi lama2 enek juga. Yah, walaupun begitu, gw pengen cepet2 buka puasa, pengen nyicip kue yang uda susah payah gw dan keluarga gw bikin.

My Sanctuary

Posted: Agustus 26, 2009 in Gefühl, Schule
Tag:, ,

Do you have a sanctuary? A place you visit or recall whenever you feel bored or down on your luck. Or a place you go when you want to break away from your routine. I do.

Over the course of my life, there have been several things that I have called my sanctuary.

At Junior High School, manga’s (comic from Japan) became my sanctuary. I could get myself occupied for hours reading manga, even skipping bath and pray. Manga’s give me a change to jump into the manga’s world and become someone else. That refreshed me because I was damn bored of my toneless life.

But in last year at JHS, I realize that my social life was deteriorating. So I tried to start using my time to hanging out with my friend. Still I can’t remove my manga’s from my life, but I tried to decreasing my time for reading manga’s.

I’ve got nice photos and memories at my time when I hanging out with my friends. But in the end I admit, since we’re started Senior High School, we’re choose different path so it was hard to gathered again.

I’ve found new friends at SHS, we’re having a really good time until we’re got a different class, then I became student council. The secretariat of student council became my sanctuary but only for one year, because right now I’m no longer a student council.

I have nothing for my sanctuary. I want to find it, soon.

Note : I’ve got inspired because of the “My Sanctuary” article, who’s made by Bima Setyo Wibowo in Reader’s Digest Indonesia. A few sentence in this post is from that article.