Filosofi Truk Sampah

Posted: Desember 8, 2009 in Schule
Tag:, ,

Biasanya tiap hari senin, anak-anak dibagikan lembaran berupa petuah-petuah dari guru, biasanya cuma hal-hal kecil yang gitu-gitu aja, tapi ada juga yang menarik. contohnya yang satu ini, terlalu sayang untuk terbuang begitu saja di tong sampah walaupun berisi tentang sampah:

Suatu malam saya naik sebuah taksi yang menuju Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil mewah melompat keluar dari tempat parkir tepat didepan kami. Supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam sehingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil mewah tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami. Supir taksi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, “Mengapa Anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil Anda dan dapat saja mengirim kira ke rumah sakit!” Saat itulah saya belajar dari supir taksi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut:

Hukum Truk Sampah

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustasi, kemarahan, dan kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada Anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, doakan mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang Anda temui, di tempat kerja, di sekolah, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun pagi hari dengan penyesalan, maka sayangilah orang yang memperlakukan Anda dengan benar dan berdoalah bagi yang tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yang kamu buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.

Hidup itu bukan mengenai menunggu badai berlalu, tetapi tentang belajar menari dalam hujan. (Abu Fauzan)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s